Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Agama Apa Yang Paling Terbaik?

Agama Apa Yang Paling Terbaik? - Diambil dari buku sejarah kuno, Seorang ahli dari kelompok "The Theology Of Freedom" dari Brazil bernama Leonardo Boff bertanya kepada Dalai Lama, nama dari seorang pemimpin umat Buddha dari Tibet :

"Yang Mulia, apakah agama terbaik ?" tanya Leonardo Boff kepada Dalai Lama.
Sebelumnya Leonardo Boff menduga bahwa Dalai Lama akan menjawab : Agama Buddha dari Tibet atau agama Oriental yang lebih tua dari agama Islam, Yahudi dan Kristen.,


Ternyata sambil tersenyum, Dalai Lama menjawab :
"Agama terbaik adalah agama yang lebih mendekatkanmu pada TUHAN, yaitu agama yang membuatmu menjadi orang yang lebih baik". Sambil menutupi rasa malu karena punya dugaan kurang baik tentang Dalai Lama.

Leonardo Boff bertanya lagi :
"Apakah tanda agama yang membuat kita menjadi lebih baik ?"

Jawaban Dalai Lama :
"Agama apapun yang bisa membuatmu :
- Lebih welas asih
- Lebih berpikiran sehat
- Lebih objektif dan adil
- Lebih menyayangi
- Lebih manusiawi
- Lebih mempunyai rasa tanggung jawab
- Lebih ber-etika

Agama yang memiliki kualitas seperti itu adalah agama terbaik."


Baca juga :
✔ Tata Cara Mengenal ALLAH
✔ Mati Itu Sakit Atau Nikmat


Leonardo Boff terdiam dan ter-kagum kagum atas jawaban Dalai Lama yang bijaksana dan tidak terbantahkan lagi itu.

Selanjutnya, Dalai Lama berkata :
"Tidak penting bagiku apa agamamu kawan... tidak peduli kamu beragama atau tidak. Yang betul betul penting bagiku adalah perilakumu di depan kawan-kawan mu, keluarga, komunitas, lingkungan kerja dan dunia."

Dalaipun Lama berkata lagi :
- Jagalah pikiranmu, karena akan menjadi perkataanmu.
- Jagalah perkataanmu, karena akan menjadi perbuatanmu.
- Jagalah perbuatanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu.
- Jagalah kebiasaanmu, karena akan membentuk karaktermu.
- Jagalah karaktermu, karena akan membentuk nasibmu.
Jadi sebenarnya, nasib mu berawal dari pikiran mu !

Dalai Lama kemudian mengakhiri perbincangan itu dengan berkata, "Tak ada agama yang lebih tinggi dari Kebenaran yang Haqiqi."

Memandang Ibadah Puasa Dalam Segi Syari'at Tariqat Dan Haqiqat

Memandang Ibadah Puasa Dalam Segi Syari'at Tariqat Dan Haqiqat - Ibadah puasa dalam takaran ilmu Syari’ah sangat menekankan aspek dasar puasa itu dengan kedisiplinan terhadap asas rukun dan syarat puasa. Sedikit apapun pelanggaran rukun dan syarat puasa akan berakibat fatal atau terancam batalnya puasa itu sendiri. Contoh sederhana, jika seseorang akan memasukkan benang ke dalam jarum biasanya dibasahi dengan air liur dengan menjilat ujung benang itu, agar benang tegak lurus dan gampang memasukkan ke dalam lubang jarum. Apabila benang itu benang putih, maka tidak mengancam batalnya puasa. Akan tetapi jika benang itu berwarna dan lunturannya bergabung dengan air liur masuk ke dalam tenggorokan maka itu mengancam batalnya puasa.


Puasa ahli syariah (fiqih) masih sangat standar. Masih terbatas pada pelaksanaan puasa yang mengacu pada syarat rukun dan wajib, syarat sah, dan sunah-sunah puasa. Puasa ahli tarekat (ahl al-thariqah) tidak hanya beribadah sebatas syarat rukun dan wajib sahnya saja namun kelebih dari sekadar puasa standar yaitu beribdah puasa dengan melibatkan seluruh anggota tubuh dan panca indera secara lahir batin.

Puasa ahli tarekat, Mereka memaknai puasa puasa lebih mendalam secara berkelanjutan, meninggalkan segala hal yang bertentangan serta menjalankan apa-apa yang diridhai Allah, dari berbagai perintah dan larangan-Nya, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, baik berupa pengetahuan maupun amalan.

Wajibkah Seorang Muslim Bertarekat, Apa Bahayanya Jika Tidak Bertarekat ? baca selengkapnya...


Pengertian puasa tersebut di atas jelas luas karena yang harus berpuasa bukan hanya organ tubuh secara biologis seperti mulut dan kemaluan, melainkan juga meliputi pancaindra lahir dan pancaindra batin.

Puasa yang demikian inilah yang mampu mengantarkan seseorang untuk meraih keutamaan Allah SWT. Selain menunaikan kewajiban puasa Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam, ibadah puasa juga diharapkan mampu menghanguskan dosa-dosa di masa lampau, mulai dosa kecil sampai dosa besar. Puasa Ramadhan diharapkan pula mampu membakar semangat jihad, ijtihad, mujahadah, dan semangat riyadhah, yang pada saatnya akan terbukanya hijab qolbu, dimana seorang mukmin mulai star awal untuk mencapai tingkat maqom kedekatan diri dengan Allah SWT.

Dalam perspektif Hakikat, kedua tahapan puasa syari'ah dan tariqat tersebut sudah dilalui. Puasa bagi komunitas ahli hakikat sudah tidak menekankan keistimewaan luar biasa atau lebih sederhananya pahala dan syarat rukun syahnya puasa termasuk keutamaan bulan Ramadhan. Akan tetapi menjaga batinya agar senantiasa suci, karena dari Qolbu yang suci merupakan maQom bagi seorang mukmin sebagai pijakan untuk memandang sifat-sifat hayatnya ALLAH, karna bagi golongan ini puasa bukan hanya menahan lapar, dahaga, dan hubungan suami isteri.

Mereka tidak ingin membatalkan puasanya meskipun sudah berbuka. Artinya, secara lahiriyyah sudah berbuka tetapi ia masih tetap memuasakan pikirannya, suasana batinnya untuk tidak memusatkan sesuatu yang selain Allah SWT, memuasakan ingatannya untuk mengingat sesuatu yang selain Allah, memuasakan keinginannya selain keinginan untuk bertaqarrub ke hadzirat ALLAH, memuasakan harapan - harapannya untuk berharap selain ridha Allah SWT.

Sedetik pun ia tidak mau membatalkan puasanya meskipun sudah berbuka secara fisik. Ia merasa puasanya batal manakala berkeinginan selain keinginan tunggalnya mencapai mardhatillah.

Mereka tidak tertarik lagi dengan janji pahala yang berlipat ganda di dalam bulan Ramadhan, karena menjalankan puasa bukan mencari pahala, seperti orang-orang awam pada umumnya. Ia sudah masuk kategori pengamal puasa khawashul khawash, yang tidak lagi berharap pahala atau berkah, karena satu-satunya harapan mereka hanyalah perjumpaan dengan Allah.

Ia menjalankan ibadah puasa bukan karena ingin masuk surga atau takut masuk neraka. Ia juga menjalankan puasa bukan untuk memperoleh berkah kehidupan dunia dan akhirat. Bagi mereka perbedaan dunia dan akhirat sudah sedemikian tipis sehingga tidak lagi terbuai dengan janji-janji orang terhadap Ramadhan. Bagi mereka ambilah itu surga, ambilah semuanya, mereka sudah cukup hanya memiliki dan hidup di dalam genggaman ALLAH.

Puasa para ahli hakikat sama sekali tidak pernah merasakan sebagai suatu masalah seperti beban, lapar, dahaga, dan pembatasan fisik lainnya. Bagi mereka puasa, sebagaimana kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya seperti shalat dan ibadah lainya, akan tetapi lebih dirasakannya sebagai sesuatu amalan spiritual yang maha indah dan nikmat. Mereka merasa nyaman dengan berbagai ritual keagamaan sehingga tidak terasa lagi puasa itu sebagai sebuah kewajiban tetapi sebagai kesenangan batin. Semoga kualitas puasa kita semakin meningkat. Selamat menikmati bulan puasa!

Tata Cara Mengenal ALLAH

Bagaimanakah cara kita mengenal Allah ? - Syeikh Ahmad Arifin berpendapat bahwa setiap yang ada pasti dapat dikenal dan hanya yang tidak ada yang tidak dapat dikenal. Karena Allah adalah zat yang wajib al-wujud yaitu zat yang wajib adanya, tentulah Allah dapat dikenal, dan kewajiban pertama bagi setiap muslim adalah terlebih dahulu mengenal kepada yang disembahnya, barulah ia berbuat ibadah sebagimana sabda Nabi :

أَوَلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَةُ اللهِ

Artinya:
“Pertama sekali di dalam agama ialah mengenal Allah
Kenallah dirimu, sebagaimana sabda Nabi SAW



مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فَسَدَ جَسَدَهُ

Artinya:
“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.

Lalu diri mana yang wajib kita kenal? Sungguhnya diri kita terbagi dua sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman ayat 20 :

وَأَسْبَغَ عَليْكُمْ نِعَمَهُ ظَهِرَةً وَبَاطِنَةً

Artinya :
Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.

Jadi berdasarkan ayat di atas, diri kita sesungguhnya terbagi dua:
  1. Diri Zahir yaitu diri yang dapat dilihat oleh mata dan dapat diraba oleh tangan.
  2. Diri batin yaitu yang tidak dapat dipandang oleh mata dan tidak dapat diraba oleh tangan, tetapi dapat dirasakan oleh mata hati.
Adapun dalil mengenai terbaginya diri manusia, Karena sedemikian pentingnya peran diri yang batin ini di dalam upaya untuk memperoleh pengenalan kepada Allah, itulah sebabnya kenapa kita disuruh melihat ke dalam diri (introspeksi diri) sebagimana firman Allah dalam surat az-Zariat ayat 21:
وَفِى اَنْفُسِكُمْ اَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ

Artinya :
Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya.

Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan ke dalam dirinya disebabkan karena di dalam diri manusia itu Allah telah menciptakan sebuah mahligai yang mana di dalamnya Allah telah menanamkan rahasia-Nya sebagaimana sabda Nabi di dalam Hadis Qudsi :
بَنَيْتُ فِى جَوْفِ اِبْنِ آدَمَ قَصْرًا وَفِى الْقَصْرِ صَدْرً وَفِى الصَّدْرِ قَلْبًا وَفِى الْقَلْبِ فُؤَادً وَفِى الْفُؤَادِ شَغْافًا وَفِى الشَّغَافِ لَبًّا وَفِى لَبِّ سِرًّا وَفِى السِّرِّ أَنَا (الحديث القدسى)

Artinya:
Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad) dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf) dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr) dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah”. (Hadis Qudsi)

Bagaimanakah maksud hadis ini? Tanyalah kepada ahlinya, yaitu ahli zikir, sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nahal ayat 43 :
فَاسَئَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ

Artinya:
“Tanyalah kepada ahli zikrullah (Ahlus Shufi) kalau kamu benar-benar tidak tahu.”
Karena Allah itu ghaib, maka perkara ini termasuk perkara yang dilarang untuk menyampaikannya dan haram pula dipaparkan kepada yang bukan ahlinya (orang awam),


Sebagimana dikatakan para sufi:

وَلِلَّهِ مَحَارِمٌ فَلاَ تَهْتَكُوْهَا

Artinya:
“Bagi Allah itu ada beberapa rahasia yang diharamkan membukakannya kepada yang bukan ahlinyah”.
Nabi juga ada bersabda :

وَعَائِيْنِ مِنَ الْعِلْمِ اَمَّا اَحَدُ هُمَا فَبَشَتْتُهُ لَكُمْ وَاَمَّااْلأَخِرُ فَلَوْبَثَتْتُ شَيْئًا مِنْهُ قَطَعَ هَذَالْعُلُوْمَ يَشِيْرُ اِلَى حَلْقِهِ

Artinya:
“Telah memberikan kepadaku oleh Rasulullah SAW dua cangkir yang berisikan ilmu pengetahuan, satu daripadanya akan saya tebarkan kepada kamu. Akan tetapi yang lainnya bila saya tebarkan akan terputuslah sekalian ilmu pengetahuan dengan memberikan isyarat kepada lehernya.

اَفَاتُ الْعِلْمِ النِّسْيَانُ وَاِضَاعَتُهُ اَنْ تَحَدَّثْ بِهِ غَيْرِ اَهْلِهِ

Artinya :
“Kerusakan dari ilmu pengetahuan ialah dengan lupa, dan menyebabkan hilangnya ialah bila anda ajarkan kepada yang bukan ahlinya.”
Adapun tentang Ilmu Fiqih atau Syariat Nabi bersabda:

بَلِّغُوْا عَنِّى وَلَوْ اَيَةً

Artinya:
“Sampaikanlah oleh kamu walau satu ayat saja”.
Adapun Ilmu Fiqih tidak boleh disembunyikan, sebagaimana sabda Nabi SAW:

مَنْ كَتَمَ عِلْمًا لِجَمِّهِ اللهِ بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ

Artinya:
“Barangsiapa yang telah menyembunyikan suatu ilmu pengetahuan (ilmu syariat) akan dikekang oleh Allah ia kelak dengan api neraka”
Baca juga
Wajibkah Seorang Muslim Bertarekat, Apa Bahayanya Jika Tidak Bertarekat ?
Pentingnya Perpaduan Antara Syariat dan Haqiqat
Adakah tanda tanda menjelang kematian dalam islam ?
Adapun ilmu hakikat atau ilmu batin memang tidak boleh disiar-siarkan kecuali kepada orang yang menginginkannya. Memberikan dan mengajarkan ilmu hakikat kepada yang bukan ahlinya ditakuti jadi fitnah disebabkan pemikiran otak sebahagian manusia ini tidak sampai mendalami ke lubuk dasarnya yaitu ilmu Allah Ta’ala. Ibarat kayu di hutan tidak sama tingginya, air di laut tidak sama dalamnya, dan tanah di bumi tidak sama ratanya, demikian halnya dengan manusia. Maka ahli Zikir (ahlus Shufi) inilah yang mendekati maqam wali-wali Allah yang berada di bawah martabat para nabi dan rasul. Inilah makna tujuan Allah memerintahkan supaya bertanya kepada ahli Zikir, karena ahli Zikir adalah orang-orang yang senantiasa hati dan pikirannya selalu ingat kepada Allah serta senantiasa mendapat bimbingan ilham dari Allah SWT.

Oleh karena itu, agar kita dapat mengenal Allah, maka kita harus mempunyai pembimbing rohani atau mursyid. Tentang hal ini Abu Ali ats-Tsaqafi bertaka, “seandainya seseorang mempelajari semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang syeikh yang memiliki akhlak luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari seorang syeikh yang melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki muamalah”.

Namun tidaklah ilmu pengenalah kepada Allah ini diperoleh dengan mudah begitu saja seperti mempelajari ilmu syari’at, karena ada satu syarat yang paling utama yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu mengambil ilmu ini dengan dibai’at oleh seorang mursyid yang kamil mukamil yang masuk dalam rantai silsilah para syeikh tarekat sufi yang bersambung-sambung sampai kepada Rasulullah SAW. Oleh karena itu jalan satu-satunya bagi kita untuk dapat mengenal Allah adalah dengan mempelajari ilmu tarekat di bawah bimbingan seorang mursyid.

Tanya : Mengapa hati memegang peran penting di dalam mengenal Allah?
Jawab : Bila kita sebut nama hati, maka hati yang dimaksud di sini bukanlah hati yang merah tua seperti hati ayam yang ada di sebelah kiri yang dekat jantung kita itu. Tetapi hati ini adalah alam ghaib yang tak dapat dilihat oleh mata dan alat panca indra karena ia termasuk alam ghaib (bersifat rohani). Tiap-tiap diri manusia memiliki hati sanubari, baik manusia awam maupun manusia wali, begituja para nabi dan rasul. Pada hati sanubari ini terdapat sifat-sifat jahat (penyakit hati), seperti : hasad, dengki, loba, tamak, rakus, pemarah, bengis, takbur, ria, ujub, sombong, dan lain-lain. Tetapi bilamana ia bersungguh-sungguh di dalam tarekatnya di bawah bimbingan mursyidnya, maka lambat laun hati yang kotor dan berpenyakit tadi akan bertukar bentuknya dari rupa yang hitam gelap pekat menjadi bersih putih dengan mengikuti kegiatan suluk atau khalwat secara kontinyu. Manakala hati yang hitam tadi telah berubah menjadi putih bersih, barulah ia memberikan sinar. Hati yang putih bersih bersinar itulah yang dinamakan hati Rohani (Qalbu) atau disebut juga dengan diri yang batin.

Seumpama kita bercermin di depan kaca, maka kita tidak akan dapat melihat apa yang ada dibalik cermin selain muka kita, karena terhalang oleh cat merah yang melekat disebaliknya. Tetapi bila cat merah itu kita kikis habis, maka akan tampaklah di sebaliknya bermacam-macam dan berlapis-lapis cermin hingga sampai menembus ke alam Nur, alam Jabarut, alam Lahut, hingga alam Hadrat Hak Allah Ta’ala.

Itulah sebabnya bila kita hanya baru sebatas mengenal hati sanubari saja, maka yang kita lihat hanya diri kita saja, sebab ditahan oleh cat merah tadi, yaitu sifat-sifat jahat seperti: takabbur, ria, ujub, dengki, hasad, pemarah, loba, tamak, rakus, cinta dunia, dan berbagai penyakit hati lainnya. Tetapi bila mana cat merah itu telah terkikis habis, barulah ia akan menyaksikan alam yang lebih tinggi dan mengetahuilah ia segala rahasia termasuk dirinya dan hakikatnya dan juga alam seluruhnya dan akhirnya mengenallah ia akan Tuhannya. Itulah sebabnya para wali-wali Allah itu lahir dari para sufi yaitu orang-orang yang telah berhasil membersihkan hatinya dengan bantuan mursyidnya pada zahir sedang pada hakikatnya dengan qudrat dan iradat Allah Ta’ala. Di sinilah terletak wajibnya mengenal diri untuk jalan mengenal Allah.
http://sammaniyah.blogspot.com
Dari Tarekat Sammaniyah
Oleh : Saifuddin, M.A
Di edit oleh : Asnaji

Wajibkah Seorang Muslim Bertarekat, Apa Bahayanya Jika Tidak Bertarekat ?

Rugi dan Penyesalan yang amat sangat jika seorang muslim tidak bertarekat.

Tanya :
Apa akibat dan bahayanya jika seorang Muslim yang mengaku beriman tidak mempelajari Tarekat?

Jawab :
Jika seorang Muslim yang mengaku beriman hanya mempelajari Ilmu Syari’at saja dan tidak mempelajari Tarekat sampai akhir hayatnya, maka nanti pada saat sakaratul maut segala amalan Syari’atnya (shalat, puasa, zakat, dan haji) tidak akan dapat menolongnya. Menurut Al-Ghazali, yang dimaksud dengan sakaratul maut yaitu, dikatakan telah mati, nyawanya masih ada, dikatakan masih hidup, sudah tidak bisa apa-apa.

Ada tujuh sifat maani (wajib) pada Allah Taala yang telah dipinjamkan kepada manusia, diantaranya yaitu :
  1. Hayat, sedangkan pada manusia adalah yang dihidupkan.
  2. Ilmu, sedangkan pada manusia adalah yang diberi ilmu.
  3. Iradat, sedangkan pada manusia adalah yang diberi kehendak.
  4. Qudrat, sedangkan pada manusia adalah yang diberi kemampuan.
  5. Bashar, sedangkan pada manusia adalah yang diberi penglihatan.
  6. Sam'a’ sedangkan pada manusia adalah yang diberi pendengaran.
  7. Kalam, sedangkan pada manusia adalah yang diberi kemampuan berkata-kata.
Setiap barang pinjaman, pasti akan kembali kepada pemiliknya. Maka pada saat sakaratul maut , Allah akan mengangkat sifat-Nya yang lima, yang telah ia pinjamkan kepada hamba-hamba-Nya, diantaranya yaitu sifat iradat, qudrat, bashar, sama’ dan kalam. Maka tinggallah dua sifat yang masih tersisa pada saat sakaratul maut yaitu, sifat hayat dan ilmu. Maka pada saat sakaratul maut tidak ada yang dapat kita lakukan dan siapapun tidak akan ada yang dapat menolong kita sebagaimana firman Allah dalam surat as-Syuara ayat 88 :

ﻳَﻮْﻡَ ﻻَﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻣَﺎﻝٌ ﻭَﻻَﺑَﻨُﻮْﻥَ . ﺍِﻻَّﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﺍﻟﻠﻪَ ﺑِﻘَﻠْﺐٍ ﺳَﻠِﻴْﻢٍ .

Artinya : “Pada hari itu harta anak-anak laki-laki tiada berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Jadi berdasarkan ayat di atas bahwa yang dapat menyelamatkan manusia pada saat sakaratul maut adalah hati yang bersih. Adapun yang dimaksud dengan hati yang bersih yaitu hati yang selalu mengingat Allah.Jadi jelaslah Ilmu Syari’at tidak berlaku dan tidak dapat digunakan pada saat sakaratul maut, sebab Ilmu Syari’at terkait dengan sifat iradat, qudrat, basar, sama’, dan kalam. Sedangkan kelima sifat tersebut telah diangkat oleh Allah pada saat sakaratul maut. Oleh sebab itu Hadis Nabi yang berbunyi :

ﻟَﻘِّﻨُﻮﺍْ ﻣَﻮْﺗَﺎﻛُﻢْ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ

Artinya : “Bimbinglah orang yang hendak meninggal dunia dengan ucapan: la ilaha illallah”. (H.R. Muslim).
Hadis di atas sesungguhnya diperuntukkan kepada orang yang akan mati, yaitu setiap orang yang masih hidup dan bukan kepada orang yang akan mati pada saat sakaratul maut. Hadis di atas merupakan peringatan kepada orang-orang yang masih hidup supaya mengenal Allah, sebab apabila kalimah la ilaha illallah dibisikkan kepada orang yang akan mati pada saat sakaratul maut tidak akan ada gunanya, sebab Allah telah mengangkat sifat sama’ (pendengaran) padanya, mata telah buta, anggota badan telah lumpuh dan kaku. Maka tiadalah yang dapat menyelamatkan manusia pada saat sakaratul maut selain dirinya sendiri.

ILMU SYARIAT TIDAK AKAN MAMPU MENOLONGHMU SAAT MENGHADAPI SAKARATUL MAUT.
Apabila ia semasa hidupnya hanya mempelajari Ilmu Syari’at saja, maka binasalah ia, sebab Ilmu Syari’at tidak berlaku pada saat sakaratul maut. Lalu ilmu apakah yang berlaku pada saat sakaratul maut? maka jawabannya dapat diperoleh dari pantun yang berisi nasehat kepada manusia tentang sakaratul maut:

Pohon jelatang di tepi laut...
Gugur bunganya dimakan ikan...
Kalaulah datang si Malaikal maut...
Ilmu apa yang akan digunakan...

Orang nelayan pergi ke laut...
Pukat dibawa penangkap ikan...
Kalaulah datang si Malaikal maut...
Ilmu Hakikat itulah yang di gunakan...

Kata bismillah asal mula jadi...
Makrifat iman itulah nur Ilahi...
Apalah gunanya ilmu dicari...
Kalaulah tidak mengenal diri...

Pandang makrifat di dalam diri...
Tempat terjadi ismu Illahi...
Amalan Syari’at belumlah berarti...
Amalan hakikat itulah yang dibawa mati...


Baca juga : Pentingnya Perpaduan Antara Syariat dan Haqiqat

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa Ilmu Hakikatlah yang berlaku pada saat sakaratul maut, sebab hanya dengan Ilmu Hakikatlah manusia dapat mengingat Allah. Apabila pada saat akhir hayatnya ia dapat mengingat Allah, maka inilah yang disebut dengan hati yang bersih/selamat (qalbin salim), yaitu tidak ada yang diingatnya selain Allah. Di sinilah penentuan apakah manusia itu masuk surga atau neraka. Apabila pada saat akhir hayatnya ia dapat mengingat Allah, maka surgalah baginya. Adapun orang yang tidak dapat mengingat Allah pada akhir hayatnya, maka nerakalah baginya.

Adapun bagi orang yang dapat mengingat Allah, maka tidak ada hak bagi Malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Allahlah yang langsung mencabut nyawanya. Sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 42 :

ﺍﻟﻠﻪُ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻰ ﺍْﻷَﻧْﻔُﺲَ ﺣِﻴْﻦَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ

Artinya : Allahlah yang mencabut nyawa orang yang mengingat Allah ketika matinya.”

Berdasarkan ayat di atas, Allahlah yang langsung mencabut nyawa orang yang dapat mengingat-Nya di saat wafatnya. Para sufi berkata bahwa sesakit-sakit orang yang dicabut oleh Allah nyawanya adalah seperti ia mengangkat takbir ketika hendak sembahnyang. Adapun cara Allah mewafatkan hamba-hamba-Nya yang dapat mengingat-Nya, maka Allah cukup hanya dengan memanggilnya, sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah dalam surat al-Fajri ayat 27-30 :

ﻳَﺄَﻳَّﺘُﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲُ ﺍﻟْﻤُﻄْﻤَﺌِﻨَّﺔٌ . ﺍِﺭْﺟِﻌِﻰ ﺍِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻚَ ﺭَﺍﺿِﻴَﺔً ﻣَﺮْﺿِﻴَﺔً . ﻓَﺎﺩْﺧُﻠِﻰ ﻓِﻰ ﻋِﺒَﺪِﻯ . ﻭَﺍﺩْﺧُﻠِﻰ ﺟَﻨَّﺘِﻰ .

Artinya : “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. 89 al-Fajri: 27-30).
Demikianlah penghargaan Allah bagi orang yang dapat mengingat-Nya pada saat wafatnya. Para Malaikat yang mengelilinginya hanya mengucapkan salam kepadanya dan menggiring ruh tersebut ke baitul makmur.

Adapun bagi orang yang tidak dapat mengingat Allah pada saat wafatnya, maka Allah mewakilkan kepada Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya, sebagaimana firman Allah :

ﻗُﻞْ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻜُﻢْ ﻣَّﻠَﻚُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻭُﻛِّﻞَ ﺑِﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮْﻥَ .

Artinya : “Katakanlah Allah akan mewakilkan Malaikal maut untuk mencabut nyawamu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan kembali”. (Q.S. 32 as-Sajadah: 11).
Selanjutnya di dalam surat an-Nisa Allah menjelaskan orang yang bagaimana yang dicabut oleh Malaikat maut nyawanya, sebagaimana firman Allah :

ﺍِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺗَﻮَﻓَّﻬُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺌِﻜَﺔُ ﻇَﺎﻟِﻤِﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ

Artinya : “Sesungguhnya orang yang diwafatkan Malaikat maut adalah mereka yang menzalimi diri mereka sendiri”. (Q.S. 4 an-Nisa: 97).
Berdasarkan penjelasan ayat di atas bahwa sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah pada hakikatnya adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri.

Adapun seenak-enak atau seringan-ringan Malaikat maut mencabut nyawa manusia adalah seperti kambing dikuliti hidup-hidup. Demikianlah jijiknya Allah terhadap orang yang tidak dapat mengingat-Nya, sehingga Allah mewakilkan kepada Malaikat maut untuk mencabut nyawanya.

Demikianlah betapa meruginya orang-orang yang hanya mengandalkan amal Syari’at saja dan mengabaikan Hakikat. Orang-orang yang mengabaikan hakikat adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri. Hal ini disebabkan karena sesungguhnya mereka tidak mengenal yang mereka sembah. Inilah yang menyebabkan mereka tidak dapat kembali kepada Allah karena sesunggunya sewaktu di dunia mereka tidak pernah mengenal Allah.

Adapun bagi orang-orang mukmin yang dapat mengingat Tuhannya semasa hidupnya di dunia, maka di yaumil mahsyar wajah mereka pada hari itu berseri-seri sebagaimana firman Allah :

ﻭُﺟُﻮﻩٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻧَّﺎﺿِﺮَﺓٌ . ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ﻧَﺎﻇِﺮَﺓٌ .

Artinya : “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat. (Q.S. 75 al-Qiyamah: 22-23).
Hadis Nabi SAW :

ﻛُﻨَّﺎﺟُﻠُﻮْﺳًﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻨَﻈَﺮَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮِ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍَﺭْﺑَﻊَ ﻋَﺸَﺮَﺓَ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﻧَّﻜُﻢْ ﺳَﺘَﺮُﻭْﻥَ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﻋَﻴَﺎﻧًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮَﻭْﻥَ ﻫَﺬَﺍﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻻَﺗُﻀَﻤُّﻮْﻥَ ﻓِﻰ ﺭُﺅْﻳَﺘِﻪِ ﻓَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﺍَﻥْ ﻻَ ﺗُﻐْﻠَﺒُﻮْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺻَﻼَﺓٍ ﻗَﺒْﻞَ ﻃُﻠُﻮْﻉِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﺻَﻼَﺓٍ ﻗَﺒْﻞَ ﻏُﺮُﻭْﺑِﻬَﺎ ﻓَﺎﻓْﻌَﻠُﻮﺍْ .

“Kami pernah duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau memandang rembulan tanggal empat belas, lantas bersabda, “Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu dengan terang sebagaimana kamu melihat rembulan itu. Kamu tidak akan ragu sedikitpun dalam melihat-Nya. Dan kalau kamu mampu janganlah terlalaikan melakukan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka kerjakan itu. (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah semasa hidupnya di dunia, maka Allah akan mengumpulkannya dalam keadaan buta, bisu, dan pekak sebagaimana firman Allah :

ﻭَﻧَﺤْﺸُﺮُﻫُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﻤَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻋُﻤْﻴًﺎ ﻭَﺑُﻜْﻤًﺎ ﻭَﺻُﻤًّﺎ ﻣَّﺄْﻭَﻫُﻢْ ﺟَﻬَﻨَّﻢُ .

Artinya : “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak, tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam”. (Q.S. 83 al-Isra’: 97).

ﻛَﻶَّ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻋَﻦْ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻟَّﻤَﺤْﺠُﻮﺑُﻮﻥَ .

Artinya : “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terlarang dari (melihat) Tuhan mereka.” (Q.S. 83 al-Mutaffifin: 15).

Demikianlah siksaan yang Allah berikan bagi orang-orang yang tidak dapat menggunakan mata, hati, dan pendengarannya untuk mengenal Allah semasa hidupnya di dunia. Adapun bagi orang-orang yang dapat mengingat Allah, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat mengingat Allah pada saat matinya, maka nerakalah baginya. Orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah sewaktu di dunia, maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang buta di dunia dan di akhirat serta mereka akan dibangkitkan dalam keadaan buta pula* sebagaimana firman Allah :

ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﻫَﺬِﻩِ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻰ ﺍْﻷَﺧِﺮَﺓِ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻭَﺃَﺿَﻞَّ ﺳَﺒِﻴْﻼً

Artinya : “Barangsiapa yang buta di dunia ini, maka di akhirat nanti ia lebih buta lagi dan lebih sesat jalannya”. (Q.S. 17 al-Isra’: 72).
Sesungguhnya yang dimaksud dengan buta pada ayat di atas adalah butanya mata hati, sebagaimana firman Allah :

ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻻَﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍْﻷَﺑْﺼَﺮُ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺗَﻌْﻤَﻰ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮْﺏُ ﺍﻟﻠّّﺘِﻲْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭْﺭِ

Artinya : “Sesungguhnya yang buta itu bukanlah mata kepala, tetapi yang buta itu adalah mata hati yang ada di dalam dada.” (Q.S. 22 al-Hadid: 46).

Berdasarkan penjelasan kedua ayat di atas, dapatlah kita ketahui bahwa sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengenal Allah pada hakikatnya adalah orang-orang yang buta di dunia dan di akhirat kelak. Mereka akan dibangkitkan dalam keadaan buta. Ketauhilah sesungguhnya buta mata hati itu lebih parah daripada butanya mata kepala. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mengutamakan Ilmu Syari’at dan mengabaikan Hakikat pada hakikatnya adalah membiarkan diri mereka dalam kebutaan dan tidak mengenal Tuhannya.

Ketahuilah, sesungguhnya hanya dengan mempelajari hakikat/bertarekatlah manusia akan mengetahui bahwa hati yang bernama latifah robbaniyah itulah yang mengetahui tentang hakikat Allah Ta’ala dan tidak dapat dicapai oleh oleh khayal, pikiran serta sangka-sangka manusia. Dan hati latifah robbaniyah
itulah yang akan dihisab atau ditanyai oleh Allah Ta’ala kelak.

RINGKASAN DAN HIMBAUAN PENTING BAGI PARA PEMBACA

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa Tasawuf dan Tarekat adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Orang yang bertarekat sudah barang tentu bertasawuf, namun orang yang mengkaji Tasawuf tanpa bertarekat adalah mustahil bagaikan orang yang ingin menyeberangi lautan yang luas tanpa perahu.

Oleh sebab itu Mempelajari Tarekat/Tasawuf Hukumnya adalah Wajib bagi setiap Muslimin dan Muslimat, sebab tanpa Bertarekat Sudah Pasti Sesat, sebab tidak mengenal yang disembahnya dan Allah tidak akan memberikan penilaian apa-apa terhadap amal ibadah yang mereka lakukan. Mereka akan dibangkitkan Allah dalam keadaan buta disebabkan butanya mata hati mereka dari mengenal Allah sewaktu di dunia dan tidak ada tempat bagi mereka (orang-orang yang tidak bertarekat) selain Neraka.

Mengingat begitu urgennya, Tarekat/Tasawuf sebagai satu-satunya cara untuk mentauhidkan Allah, maka segala paham yang berupaya merongrong dan menolak ajaran Tarekat/Tasawuf adalah wajib ditolak.

Ajaran Wahabi (yang saat ini menamakan diri mereka dengan paham Salafi atau sejenisnya) adalah salah satu paham yang harus diwaspadai, disebabkan kebencian mereka terhadap ajaran Tarekat/Tasawuf. Paham Wahabi dengan segala ajarannya harus dijauhi sebab dapat menyebabkan umat Islam menjadi sesat karena tidak mengenal Tuhan yang disembahnya. Sudah sewajarnya umat Islam menyadari bahwa segala tuduhan negatif yang dilontarkan kepada Ahli Tasawuf dan ajarannya adalah propaganda yang bersumber dari orang-orang yang awam dan sama sekali tidak paham tentang Tasawuf.

Meskipun penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam membela Tarekat/Tasawuf dengan berdasarkan dalil naqli dan aqli serta telah menyebutkan bahwa bertarekat itu wajib hukumnya, namun lewat tulisan ini penulis juga menghimbau kepada para pembaca agar terlebih dahulu menguji atau meneliti kebenaran ajaran Tarekat yang akan diikutinya, karena tidak ada jaminan bahwa semua Tarekat itu benar-benar dapat menyampaikan pengenalan kepada Allah. Berdasarkan kriteria Tarekat yang telah penulis sebutkan kiranya dapat dijadikan pedoman untuk menyeleksi kebenaran Tarekat yang akan diikuti ajarannya.

Semoga Allah menunjuki kita semua sehingga dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

**** MARI BERTHARIQAH ****

http://sammaniyah.blogspot.com
Dari Tarekat Sammaniyah
Oleh : Saifuddin, M.A
Di edit oleh : Asnaji

Pentingnya Perpaduan Antara Syariat dan Haqiqat

Apa itu Syari’at, Tarekat, Hakikat, Makrifat - Dalam Ilmu Tasawuf Syari’at meruapakan peraturan, Tarekat meruapakan jalan, Hakikat merupakan keadaan dan Makrifat itu adalah tujuan akhir. Jadi sunnah harus dilakukan dengan Tarekat, jikalau tidak dilihat pekerjaan dan cara melakukannya, yang melihat itu adalah sahabat-sahabatnya, yang menceritakan kepada tabi’in, lalu kepada tabi-tabi’in dan selanjutnya sebagaimana yang dituliskan dalam Hadis, Atsar, dan dalam kitab-kitab ulama.

Jadi, bukan berarti Al-Qur’an, Sunnah, dan Ilmu Fiqh itu tidak sempurna, tetapi masih perlu penjelasan lebih lanjut dan bimbingan yang lebih teratur, agar pelaksanaan peraturan Allah dan Nabi itu dapat dilakukan semestinya, tidak menurut penangkapan otak orang yang hanya membaca dan melakukan sesuka-sukanya.

Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin Syari’at hanyalah ilmu yang mempelajari tentang ucapan dan perbuatan. Batas Ilmu Syari’at sampai yang dapat dilihat dan didengar. Sedangkan Hakikat merupakan pelajaran yang di dalam hati. Ilmu Hakikat berhubungan dengan yang ghaib. Adapun tujuan Ilmu Hakikat dipelajari adalah untuk mengenal Allah. Jadi Syari’at adalah pekerjaan zahir sedangkan Hakikat adalah pekerjaan batin.

Demikian halnya dengan amal manusia, juga terdiri dari amal zahir dan amal batin. Amal zahir berhubungan dengan ucapan (qauli) dan perbuatan (fikli), sedangkan amal batin berhubungan dengan hati (qalb). Amal zahir adalah amal yang berwaktu dan hanya dapat dilaksanakan apabila kita memiliki kemampuan. Sebagai contoh adalah ibadah puasa, zakat, dan haji hanya dapat dilakukan apabila telah tiba waktunya dan mampu melaksanakannya. Sedangkan amal batin adalah amal yang tidak berwaktu karena pekerjaan mengingat Allah dapat dilakukan setiap saat, kapan saja dan di mana saja. Adapun mengingat Allah merupakan amal yang paling besar pahalanya di sisi Allah sebagaimana firman Allah :

وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرِ

Artinya : “Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar faedahnya”. (Q.S. 29 al-Ankabut: 45).
Bahkan di dalam sebuah Hadis disebutkan :

تَفَكَّرُ سَاعَةِ خَيْرُ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةِ

“Tafakkur (mengingat Allah) satu detik lebih baik daripada beribadah setahun hati yang tidak mengingat Allah”.
Demikianlah keutamaan amal Hakikat bila dibandingkan dengan amal Syari’at. Bahkan Hadis di atas menjelaskan bahwa mengingat Allah satu detik saja lebih baik dari pada beramal ibadah selama setahun tetapi hatinya tidak mengingat Allah. Sesungguhnya Allah tidak memberikan penilaian apa-apa terhadap amal ibadah yang dilakukan tanpa mengingat-Nya dan sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata sebagaimana firman Allah :

فَوَيْلٌ لِلْقَسْيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ ذِكْرِاللهِ, أُوْلَئِكَ فِى ضَلَلٍ مُّبِيْنِ.

Artinya : “Maka celakalah bagi orang yang hatinya tidak dapat mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. 39 az-Zumar: 22).
Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin penyebab Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata adalah dikarenakan mereka hanya pandai mengatakan tetapi tidak pandai memperbuatnya. Sebagai contoh kita selalu membaca do’a iftitah :

إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ...


Lisan berkata: Kuhadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Akan tetapi perbuatannya bertentangan dengan ucapannya, sebab ia tidak tahu wajah mana yang harus dihadapkannya kepada Allah. Kalau wajah yang zahir dihadapkan kepada Allah berarti Allah itu mempunyai tempat dan tidak mungkin Allah melihat wajah manusia sebab Allah itu Maha Suci. Itulah sebabnya orang yang tidak berilmu akan terlihat olehnya macam-macam bahkan ia berkeliling dunia di dalam sholatnya. Mengenai hal ini para Sufi berkata bahwa segala sesuatu yang dilihat olehnya di dalam sholatnya, maka itulah yang menjadi Tuhannya. Jika di dalam sholat ia teringat dengan anak istrinya, maka anak dan istrinya menjadi Tuhan baginya di dalam sholatnya. Itulah sebabnya Allah tidak menerima sholat orang yang tidak mempunyai ilmu, karena orang yang sholat itu mensyarikatkan Tuhannya.
Baca juga
Wajibkah Seorang Muslim Bertarekat, Apa Bahayanya Jika Tidak Bertarekat ?
Pentingnya Perpaduan Antara Syariat dan Haqiqat
Adakah tanda tanda menjelang kematian dalam islam ?
Keadaan seperti ini pernah dialami oleh Imam al-Ghazali seorang professor Ahli Filsafat, Fuqaha, Maha Guru, dan Dosen pada Universitas Nizamul Muluk pada masa Daulah Bani Abbasiyah berkuasa di Baghdad. Pada suatu hari beliau sedang jadi imam dalam sholat berjamaah bersama-sama murid beliau lebih kurang 300 banyaknya berdatangan dari seluruh penjuru dunia Islam yang mana adik kandungnya yang bernama Ahmad al-Ghazali ikut pula di dalamnya. Tiba-tiba saja di tengah sembahyang tadi adiknya muparakah (memisahkan diri) sendirian tidak mengikuti abangnya lagi, sebab sudah nampak dalam kasyafnya bahwa abangnya tidak lagi sah sembahyangnya, karena tidak ingat akan Allah dan hanya ingat akan darah haid yang menjadi masalah pengajiannya yang dibahas sebelum sembahyang tadi.

Alangkah malunya Imam al-Ghazali bahwa sembahyangnya dibatalkan oleh adiknya yang tidak sampai kemana pengajiannya dan tidak pula popular nama gurunya. Inilah yang menjadi penyebab utama Imam al-Ghazali meninggalkan kemewahan hidup duniawi yang menyelimutinya selama ini di tengah-tengah kota Baghdad menuju masjid Baitul Maqdis di Palestina setelah belajar Tasawuf kepada Syekh Imam Zahid Abu Ali al-Farmazi dan berkhalwat di sana lebih kuarang sebelas tahun di puncak menara. Di sanalah beliau tersungkur sujud ke hadirat Allah karena nampak diri beliau berlumur najis takbur semata-mata oleh karena banyaknya ilmu yang tak bersari tadi, dan dari sanalah juga beliau meneropong dengan kasyafnya ke seluruh dunia Islam melihat akan apa yang ada dalam hati para ulama-ulama itu.

Dengan izin Allah Taala nampaklah isi hati ulama-ulama itu bermacam-macam. Ada yang ingin jadi Qadhil Qudha yaitu hakim tertinggi dalam Daulah Bani Abbasiyah dan ada pula yang ingin berebut-rebut jadi Qadhi biasa (Qadhi Daerah) dan tidak jarang pula yang suka bertengkar dan berhujjah yang masing-masing dengan dalilnya dan keterangan yang lengkap pada berbagai macam masalah yang menunjukkan di hadapan umum bahwa dialah yang paling alim dan layak mengepalai madrasah-madrasah tertinggi dalam dunia Islam (rektor universitas).

Berdasarkan kasyaf inilah lahirnya di puncak menara itu kitab Ihya Ulumuddin bagi Imam al-Ghazali yang isinya mengikis habis sifat-sifat mazmumah yang berpangkalan dalam hati sanubari manusia itu. Kemudian berikutnya lahir pula kitab Bidayatul Hidayah Minhajul Abidin, Kimia as-Sa’adah, dan kitab-kitab lainnya.

Mengenai hal ini para Sufi berkata bahwa segala sesuatu yang dilihat olehnya di dalam sholatnya, maka itulah yang menjadi Tuhannya. Jika di dalam sholat ia teringat dengan anak istrinya, maka anak dan istrinya menjadi Tuhan baginya di dalam sholatnya. Itulah sebabnya Allah tidak menerima sholat orang yang tidak mempunyai ilmu, karena orang yang sholat itu mensyarikatkan Tuhannya. Oleh karena itu Allah melarang kita beramal ibadah kalau kita tidak mempunyai ilmu sebagaimana firman Allah :


وَلاَتَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُلاً.

Artinya : “Dan janganlah kamu melakukan sesuatu apabila kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati sesungguhnya akan dimintai pertanggungjawabannya”. (Q.S. 17 al-Isra’: 36).

Itulah sebabnya Allah melarang orang yang shalat yang tidak berilmu karena tidak tahu bagaimana menggunakan pandangan, pendengaran, dan hati mereka di dalam sholatnya. Sesungguhnya orang yang tidak dapat menggunakan pandangan, pendengaran, dan hati mereka di dalam sholat pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang mabuk di dalam sholatnya. Oleh sebab itu Allah melarang mereka menghampiri sholat sebagaimana firman Allah :

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُواْ لاَتَقْرَبُواْ الصَّلَوةَ وَأَنْتُمْ سُكَرَى


Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk”. (Q.S. 4 an-Nisa: 43).
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya agar terlebih dahulu mensucikan lahir dan batinnya sebelum melaksanakan sholat. Makna suci batin adalah dapat menggunakan pandangan, pendengaran, dan hatinya untuk mengingat Allah di dalam sholatnya. Apabila orang itu belum dapat mensucikan batinnya, maka Allah melarang hamba-hamba-Nya untuk menghampiri sholat, apalagi melaksanaknnya, bahkan Allah mengancam orang-orang yang sholat sebagaimana firman Allah :

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ. اَلَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ.


Artinya : “Maka celakalah orang-orang yang sholat, mereka itu lalai di dalam sholatnya”. (Q.S. 107 al-Ma’un: 4-5).
Adapun makna lalai di sini adalah pandangan, pikiran, pendengaran, dan hatinya tidak dapat digunakan untuk mengingat Allah. Itulah sebabnya Allah menyediakan neraka Jahannam bagi orang-orang yang sholat. Bahkan Allah menyebut mereka lebih sesat dari pada binatang karena mempunyai akal tetapi tidak dapat diperguakan untuk mengenal Allah, sebagaimana firman Allah :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ أَذَانٌ لاَيَسْمَعُوْنَ بِهَا أُوْلَئِكَ كَاْلأَنْعَمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُلَئِكَ هُمُ الْغَفِلُونَ.

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan dan mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan, dan mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat dari pada binatang, mereka itu orang-orang yang lalai”. (Q.S. 7 al-A’raf: 179).

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa mengamalkan Syari’at tanpa Hakikat adalah sia-sia belaka. Mengingat begitu pentingnya pemaduan antara Syari’at dan Hakikat ini maka Imam Mazhab yang empat: Syafi’i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi tentang pentingnya pemaduan antara Syari’at dan Hakikat, meskipun mereka berbeda pendapat dalam masalah fiqh.

وَمَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ تَفَصَّخْ وَمَنْ يَتَصَوَّفُ وَلَمْ يَتَفَقَّ تَزَنْدَقَ وَمَنْ جَمَعَهَا بَيْنَهُمَا فَقَدْ فَحَقَّقَ

“Barangsiapa bersyari’at tanpa bertasawuf tidak sah dan barangsiapa yang bertasawuf tanpa bersyari’at adalah zindiq dan barangsiapa yang menyatukan keduanya maka itulah (Islam) yang sebenarnya.”
Ijma’ Imam Mazhab yang empat tersebut idasarkan pada Hadis Nabi SAW:

الشَّرِيْعَةُ بِلاَ حَقِيْقَةُ عَاطِلَةُ وَالْحَقِيْقَةُ بِلاَ شَرِيْعَةٍ بَاطِلَةٌ وَمَنْ فَرَقَ بَيْنَهُمَا فَهُوَ عَلَى الْكَافِرِيْنَ

Artinya: “Bersyariat tanpa berhakikat sia-sia (kosong/hampa) dan berhakikat tanpa bersyariat batal (tidak sah) dan barangsiapa yang memisahkan keduanyan maka ia adalah kafir”.

Jadi sesungguhnya hanya orang-orang yang mengamalkan Syari’at dan Hakikatlah yang merupakan Islam yang sebenar-benarnya dan merekalah yang disebut oleh Nabi sebagai golongan Ahlu Sunnah Waljamaah. Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian Ahlu Sunnah Waljamaah, berikut akan penulis kutipkan pendapat Syekh Ahmad Arifin mengenai hal ini.

Menurutnya secara etimologi kata ahli bermakna pintar atau pandai. Sunnah bermakna perintah, dan jamaah bermakna menggabungkan. Adapun makna kata menggabungkan di sini menurutnya adalah memadukan antara Syari’at dan Hakikat. Jadi menurutnya yang dimaksud dengan Ahlu Sunnah Waljamaah adalah golongan yang ahli atau pandai menggabungkan perintah Syari’at dan Hakikat. Namun menurut Syekh Muda Ahmad Arifin kebanyakan umat Islam saat ini keliru dalam memahami makna Ahlu Sunnah Waljamaah. Menurut mereka yang dimaksud dengan Ahlu Sunnah Waljamaah adalah berpegang teguh atau kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga masing-masing golongan umat Islam mengklaim diri mereka sebagai golongan Ahlu Sunnah Waljamaah, sehingga terkadang sebahagian umat Islam yang awam menjadi bingung, golongan mana yang harus mereka ikuti, karena semua golongan mengatakan bahwa golongan merekalah yang paling benar.

Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin, yang menjadi penyebab perpecahan umat Islam saat ini adalah karena kebanyakan umat Islam, apabila mereka menjumpai berbagai persoalan yang mereka hadapi, maka mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah padahal Allah berfirman :

فَإِنْ تَنَزَعْتُمْ فِى شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآَخِرِ


Artinya : “Apabila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu memang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (Q.S. 4 an-Nisa: 59).
Oleh karena umat Islam saat ini kebanyakan tidak dapat mengenal Allah, maka bila mereka menghadapi segala sesuatu persoalan maka dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang mereka pahami berdasarkan penangkapan otak mereka belaka. Sehingga tidak heran bila di kalangan umat Islam banyak timbul berbagai macam paham, aliran dan golongan, seperti: Islam Sunni, Islam Syi’ah, Islam Ahmadiyah, Islam Darul Arqam, Islam Muhammadiyah, Islam Kaum Tua, Islam Kaum Muda, dan sebagainya. Masing-masing golongan tersebut berpendapat bahwa hanya golongan merekalah yang paling benar dan masing-masing mereka mengklaim diri mereka sebagai golongan Ahlu Sunnah Waljamaah.

Namun dari berbagai golongan itu Syekh Muda Ahmad Arifin berpendapat bahwa secara umum umat Islam di muka bumi ini dapat dikelompokkan kepada empat golongan:

Golongan Pertama adalah Islam di sisi masyarakat, kafir di sisi Allah. Yang dimaksud adalah bersyari’at tetapi tidak berhakikat. Mereka adalah Ahli Ibadah yang ketat mengamalkan Syari’at Nabi, namun Allah tidak memberikan penilaian apa-apa atas amal ibadah yang telah mereka lakukan. Hal ini disebabkan mereka tidak mengenal yang mereka sembah. Mereka sesungguhnya segolongan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.

Golongan yang kedua adalah Islam di sisi Allah, kafir di sisi masyarakat. Yang dimaksud adalah berhakikat namun tidak bersyari’at. Mereka adalah orang-orang yang mengambil Hakikat dan mengabaikan Syari’at, seperti sholat, puasa, zakat, dan sebagainya. Mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang zindiq yang menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Golongan yang ketiga adalah kafir di sisi Allah dan kafir di sisi masyarakat. Yang dimaksud adalah tidak bersyari’at dan tidak berhakikat. Mereka adalah orang-orang yang disebut sebagai Islam KTP. Mereka sesunggunya adalah orang-orang yang fasiq.
Golongan yang keempat adalah Islam di sisi Allah dan Islam di sisi masyarakat. Yang dimaksud adalah bersyari’at dan berhakikat. Mereka adalah Ahli Hakikat yang beribadah secara zahir dan batin dan merekalah yang disebut oleh Nabi SAW sebagai Ahlus Sunnah Waljamaah yaitu golongan yang memadukan antara Syari’at dan Hakikat.

Sumber : http://sammaniyah.blogspot.com
Dari Tarekat Sammaniyah
Oleh : Saifuddin, M.A
Di edit oleh : Asnaji

Siapa Manusia Pertama Yang Melakukan Ibadah Puasa ?

Sejak kapan manusia di wajibkan berpuasa ? Siapa Manusia Pertama Yang Melakukan Puasa ? - Rentetan sepanjang sejarah puasa jika kita buka lebih jauh ternyata Puasa tidak hanya dilakukan oleh para umat Muslim pengikut Nabi Muhammad ﷺ, melainkan telah dilakukan oleh para nabi-nabi dan rasul terdahulu sebelum Nabi Muhammad ﷺ seperti puasanya Nabi Adam Alaihi Salam, Nabi Daud Alaihi Salam, Nabi Nuh Alaihi Salam.


(QS Al Baqarah 183 )

Baca juga : Apa Pengertian Hilal Dalam Sidang Isbat Satu Ramadhan Atau Satu Syawal.

Apakah ada sejarah khusus yang menerangkan mengapa Allah SWT memerintahkan umat Islam puasa di Bulan Ramadan? Dan Nabi siapa yang pertama kali melaksanakan ibadah puasa? belum di ketahui secara pasti.

Para ahli sejarahpun banyak yang menyebutkan bahwa permulaan diwajibkannya puasa itu sejak masa Nabi Nuh AS. Bahkan beliau termasuk orang yang pertama kali melakukan puasa di bulan Ramadan setelah beliau keluar dari bahtera/kapal yang sebelumnya terjadi banjir terbesar sepanjang sejarah umat manusia.

Ada pula sumber yang mengatakan bahwa awal permulaan ibadah puasa yang di lakukan Manusia adalah Puasa yang dilakukan oleh Nabi Adam Alaihi Salam, Puasa yang dilakukan oleh Nabi Adam Alaihi Salam adalah bentuk Syukur Agung dari tobatnya yang diterima Allah Subhanahu Wata’ala setelah melanggar laranganya dan di usir dari surga bersama Hawa akibat memakan buah khuldi.

Nabi Adam Alaihi Salam berpuasa selama 3 hari setiap bulannya yaitu di tanggal 13,14 dan 15 pertengahan bulan Hijriyah atau yang lebih dikenal saat ini sebagai puasa yaumul bidh.

Akan tetapi dari beberapa sumber pendapat yang paling diunggulkan adalah yang diriwayatkan oleh Imam Nujahid bin Jabir (Salah satu mufassir dari generasi Tabi’in) dan salah satu pembesar dari muridnya Ibnu Abbas RA. Yaitu : “Sesungguhnya Allah SWT. Telah mewajibkan puasa kepada setiap umat manusia. Sedangkan seperti yang diketahui bahwa sebelun Nabi Nuh AS telah ada umat dan generasi dari masa ke masa sejak zaman Nabi Adam AS.” (Tafsir al-Jami’ilahkam al-Quran karangan Imam Al-Qurtubi Juz 2 hal.274 cetakan Dar Al-Kitab Al-‘Arobi th.1387 H/1967M)

Sedangkan Puasa Ramadan yang Allah wajibkan kepada Ummat Islam (umat Nabi Muhammad SAW) pada tahun ke-2 Hijriyah.

Apa Pengertian Hilal Dalam Sidang Isbat Satu Ramadhan Atau Satu Syawal

Apa Pengertian Hilal ? - Pemantauan hilang sering dilakukan oleh pakar ahli ulama islam atau astronomi guna menetukan awal penanggalan bulan hijriyyah. Dari hasil pemantauan hilal ini berlanjut ke ruang Sidang oleh semua pemuka agama. Kata isbat sendiri (secara harfiah isbat berarti penyungguhan, penetapan, dan penentuan). Sidang isbat adalah sidang penetapan dalil syar'i di hadapan hakim dalam suatu majelis untuk menetapkan suatu kebenaran atau peristiwa yang terjadi.
Penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri. Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali.

Baca juga sejarah menarik lainya:
Siapa Manusia Pertama Yang Melakukan Ibadah Puasa ?

Pemantauan hilal atau Penentuan Awal Bulan.

  • Hisab. Secara harfiah artinya 'perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi Matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi Matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu shalat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah.
  • Rukyat. Adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.

Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat
setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender Islam. Biasanya hilal diamati pada hari ke-29 dari bulan Islam untuk menentukan apakah hari berikutnya sudah terjadi pergantian bulan atau belum. Hilal juga merupakan bagian dari fase - fase bulan.

Penentuan hilal bulan syawal adalah salah satu aktivitas penting yang dilakukan lembaga hisab untuk menentukan hari terakhir pada bulan Ramadan. Hal ini akan menentukan kapan ummat muslim terakhir melakukan puasa dan merayakan Idul Fitri. Metode penentuan hilal yang biasa dilakukan ada dua macam yakni metode hisab dan rukyat.

Selesai.